Jumat, 11 Juli 2008

DOKTRIN TRINITAS: SUATU PEMAHAMAN

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Roma 11:33)

“Adalah sulit membayangkan Allah, merumuskan-Nya dalam kata-kata adalah suatu kemustahilan…. Dalam pandangan saya, tidak mungkin mengungkapkan Dia dan lebih tidak mungkin lagi membayangkan-Nya.” (Gregory Nazianzus, c.a. 329-390)[1]



INILAH seharusnya yang menjadi kesadaran kita bahwa “yang terbatas tidak mampu menampung Yang Tak-Terbatas” – finitum non capax Infiniti. Allah senantiasa lebih besar daripada setiap konsep dan gambaran yang dapat dibuat oleh manusia. Akal manusia tidak dapat menjangkau realitas Allah secara sempurna dan tuntas. Bahasa manusia pun terbatas untuk mengungkapkan Dia, tidak dapat menampung realitas-Nya. Deus semper maior.

Tidak dapat dielakkan, Trinitas adalah doktrin[2] Kristiani yang misterius dan membingungkan. Doktrin ini menimbulkan perdebatan-perdebatan, baik dari pihak orang Kristiani sendiri maupun non-Kristiani. Akibatnya, beberapa orang menilai bahwa doktrin ini lebih baik ditiadakan saja. Berikut ini beberapa alasan dari mereka:

(1) Doktrin Trinitas lahir dari konteks zaman Patristik yang sarat dengan pengaruh Helenisme. Ada jarak yang begitu jauh antara konteks zaman Patristik dengan konteks zaman masa kini; dan alam pemikiran manusia masa kini pun sangat berbeda. Doktrin Trinitas dianggap sudah tidak relevan lagi dengan alam pemikiran masa sekarang.

(2) Doktrin Trinitas mengundang serangan dari pihak non-Kristiani, sehingga dinilai tidak cukup menciptakan suasana dialog. Contoh serangan dari pihak non-Kristiani: Hasbullah Bakry dalam bukunya Nabi Isa dalam Al-quran dan Nabi Muhammad dalam Bijbel (1959, 1961)[3] menuliskan:

“Diantara bukti2 kelantjangan tangan orang2 Nasrani itu ialah ajat2 jang menjatakan ketuhanan nabi Isa jang terdapat dalam kitab Indjil jang ada sekarang. Selain itu orang Nasrani djuga menafsirkan ajat2 Taurat dan Indjil terlalu bebas sehingga djuga mempertuhankan Marijam.

Mereka djuga menggabungkan Allah, Isa dan Djibril sebagai Tuhan kesatuan sehingga Allah hanja merupakan Tuhan jang ketiga sadja dari gabungan itu (Trinitas). Djuga keterlaluan mereka jang menganggap Isa itu sebagai anak Allah.”

Dalam bukunya, Keesaan Tuhan Menurut Ajaran Kristen dan Islam (Jakarta, Media Dakwah, 1983), H. M. Arsyad Thalib Lubis menyerang habis-habisan ajaran tentang Trinitas dan ketuhanan nabi Isa. Dasar argumentasinya adalah kepercayaan bahwa “tiada Tuhan selain Allah.” Kepercayaan Kristiani akan Allah yang Tritunggal dan ajaran tentang keallahan Kristus dianggap sebagai penyembahan tiga Allah atau dengan perkataan lain, menduakan atau menyekutukan Allah.

(3) Doktrin ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang sulit dijawab dari orang-orang Kristiani sendiri. Contoh pertanyaan-pertanyaan:

- Setelah Yesus dibaptis, langit terbuka dan Yesus melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari Sorga: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:16-17//Mrk 1:10-11//Luk 3:21-22//Yoh 1:32-34) Pertanyaan: bagaimana penjelasan tentang tiga “tokoh” (Yesus, Roh Allah, Suara dari Sorga atau Allah) yang tampil bersamaan itu?

- Sebelum ditangkap, Yesus berdoa di taman Getsemani: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat 26:36-dst.//Mrk 14:32-dst.//Luk 22:39dst.) Pertanyaan: kalau Yesus adalah Allah, maka sebenarnya Yesus berdoa kepada siapa?

- Sebelum mati, Yesus berseru dengan suara nyaring: “Eli, Eli lama sabakhtani? – Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46) Pertanyaan: kalau Yesus adalah Allah, maka apakah itu berarti Yesus berseru kepada diri-Nya sendiri?

Tulisan ini berangkat dari pandangan bahwa doktrin Trinitas tidak dapat tidak ada dalam kristianitas. Doktrin Trinitas merupakan suatu keunikan kristianitas yang signifikan bagi kehidupan dunia. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan adalah: gereja melaksanakan pembelajaran tentang doktrin Trinitas bagi umat.

Sebenarnya pembelajaran tentang Doktrin Trinitas mencakup pemahaman, penghayatan, dan penerapan tentang Trinitas. Tulisan ini mengambil bagian hanya pemahaman tentang Trinitas. Itulah sebabnya titik berat paparan terletak pada sejarah pembentukan doktrin Trinitas. Pada bagian akhir tulisan, penulis membuat semacam benang merah untuk upaya pemahaman Trinitas.

I. Sejarah Pembentukan Doktrin Trinitas

Pembentukan Doktrin Trinitas tidak terlepas dari sejarah kepercayaan orang Yahudi. Kita sadar, kekristenan lahir di Israel, dan ini berkaitan erat dengan hidup dan karya Yesus Kristus. Menurut Kisah Para Rasul 11:26: “Di Antiokhialah murid-murid untuk pertama kalinya disebut Kristen (khristianoi).” Kata ‘Kristen’ ini berarti: ‘pengikut Kristus’.[4]

Untuk mendapatkan gambaran historis yang dapat diikuti, maka paparan sejarah pembentukan Doktrin Trinitas dimulai dari paham Allah sebagaimana yang dihayati “orang Israel (Yahudi) Perjanjian Lama (PL)”.[5]

1. Dimulai dari Paham Allah Israel

Orang Israel PL memahami dan menghayati Allah sebagai “Yang-Transenden-dan-Imanen”.[6] Pemahaman dan penghayatan ini tampak di sana-sini di dalam PL.

Dalam 1Raj 8:27, tampak jelas suatu penggambaran Allah Yang Transenden, yang kehadiran-Nya tidak dapat tertampung oleh sesuatu apapun di jagat raya ini, termasuk Bait Suci.

“Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini.”

Allah Yang Transenden juga tidak dapat dikurung oleh waktu. Dia memiliki ketetapan dan kesetiaan yang tidak pernah berlalu. Tulis Yes 48:12: “Dengarlah Aku, hai Yakub, dan engkau Israel yang Kupanggil! Akulah yang tetap sama, Akulah yang terdahulu, Akulah juga yang terkemudian!”

Kategori utama dalam PL yang menyatakan transendensi Allah adalah kesadaran akan kekudusan. Kekudusan adalah kekhasan hakikat Allah yang membedakan Dia dari segala sesuatu yang ada di dunia. “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” demikian Yes 6:3. Dari kesadaran akan kekudusan Allah ini, orang Israel memahami bahwa siapa pun yang memandang atau berbicara dengan Allah Yang Transenden, ia akan mati atau celaka (Kel 3:5-6; Kel 20:20; Yes 6:5). Pada gilirannya kesadaran akan kekudusan Allah mengharuskan orang Israel untuk hidup kudus pula (lihat: Im 17-26; 19:2; 20:26).

Selain gambaran Allah Yang Transenden, PL tampaknya juga memberikan gambaran Allah Yang Imanen. Gambaran Allah yang hadir di dalam kehidupan manusia ini terungkap melalui kesaksian orang Israel yang hidup bersama Allah. Contohnya kesaksian Yakub. Ketika memberkati Efraim dan Manasye, anak-anak Yusuf, Yakub berkata:

“Nenekku dan ayahku, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah; Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang, dan sebagai Malaikat yang telah melepaskan aku dari segala bahaya, Dialah kiranya yang memberkati orang-orang muda ini sehingga namaku serta nama nenek dan bapaku, Abraham dan Ishak, termasyhur oleh karena mereka dan sehingga mereka bertambah-tambah menjadi jumlah yang besar di bumi.” (Kejadian 48:15-16)

Allah Yang Imanen adalah Allah yang terlibat di dalam sejarah kehidupan ciptaan-Nya. Dia bukanlah Allah yang duduk diam di singgasana kebesaran-Nya. Dia hadir di dalam ciptaan-Nya (Ayub 37), sangat peka akan penderitaan umat-Nya.

“Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN.” (Kel 6:5-7)

Kategori utama dalam PL yang menyatakan imanensi Allah adalah kesadaran akan kedekatan. Kedekatan ini dirasakan orang Israel melalui sejarah kehidupan mereka. Orang Israel PL tidak memandang peristiwa-peristiwa kehidupan dunia sebagai tampilan yang telanjang begitu saja. Mereka menyelaminya lantaran peristiwa-peristiwa kehidupan (dipandang) memuat makna yang kaya. Inilah yang disebut “pemaknaan hidup”. Pemaknaan hidup ini menggiring mereka kepada kesadaran akan kedekatan Allah, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi ciptaan-Nya, bahwa Allah itu baik, kasih-setia-Nya untuk selama-lamanya (Mzm 136). Gambaran kedekatan Allah dalam PL antara lain terdapat di dalam Hos 2:18; Yes 46:3-4; 49:14-16; 66:13.

2. Dipertajam oleh Kesaksian Hidup dan Karya Yesus

Sejarah bangsa Israel dalam Kitab Suci penuh dengan tragedi dan penderitaan. Paling tidak kita dapat menunjukkannya melalui penaklukan dan penjajahan bangsa-bangsa asing atas Israel. Berturut-turut: Asyur, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, berhasil menaklukkan dan menjajah Israel.[7]

Dalam masa tragis dan sengsara tersebut, di Israel, berkembang apa yang dinamakan tradisi apokaliptik.[8] Secara sederhana, tradisi ini menggambarkan pertentangan antara kekuatan yang jahat dan yang baik, antara gelap dan terang.[9] Penggambaran realitas yang cenderung dualisme ini mengisyarat-kan suatu jeritan pengharapan umat akan Allah Yang-Transenden-dan-Imanen. Umat berharap, Allah Yang-Transenden-dan-Imanen itu mau membebaskan mereka dari tragedi dan penderitaan.

Pengharapan umat secara konkret adalah berupa “kedatangan seorang Raja Damai.” Raja ini diharapkan mampu membebaskan umat dan membawa umat ke dalam keselamatan atau shalom (Yes 11:1-10; Mikha 5). Ia disebut sebagai antara lain: Mesias, Anak Manusia, Anak Daud, Anak Allah.

Pengharapan akan Mesias terus berlangsung sampai pada zaman Yesus.[10] Ini bisa dipahami lantaran pada masa Yesus Israel tetap di bawah penaklukan dan penjajahan Romawi. Tampaknya pengharapan akan Mesias berkembang ke arah hal-hal politis (yang bersifat partikular), yakni pengharapan akan kehadiran “tokoh” yang mampu memulihkan Israel. Oleh karena itu, pada masa Yesus dan sesudahnya, banyak tokoh pergerakan politis menggembar-gemborkan kedatangan mesias, bahkan mengaku diri sebagai tokoh mesianis.[11]

Yesus adalah salah seorang yang pada gilirannya dianggap sebagai Mesias, paling tidak oleh para murid-Nya (Mat 16:13-20//Mrk 8:27-30//Luk 9:18-21). Awalnya Yesus dianggap sebagai Mesias dalam pengertian partikular untuk bangsa Israel (lihat: Mat 20:2-28//Mrk 10:35-45; Kis 1:6). Hal ini bisa dipahami karena Yesus memang berjuang untuk kedamaian bangsanya melalui khotbah-khotbah, perbuatan-perbuatan ajaib (mujizat), dan juga proklamasi penentangan apapun bentuk penindasan yang melahirkan penderitaan, baik yang dilakukan oleh pelaku dan institusi pemerintah maupun pelaku dan institusi keagamaan. Tidak jarang Yesus pun menyatakan diri-Nya sebagai pemenuhan kabar baik Kerajaan Allah (bdk. Luk 4:18-21; Mat 11:2-6//Luk 7:18-23). Pada perkembangan kemudian Yesus pun dianggap sebagai Mesias dalam pengertian universal untuk dunia (Yoh 3:16). Pergeseran anggapan ini merupakan hasil dari perenungan (refleksi) para murid atas hidup dan karya Yesus. Dalam hal ini, Yesus menjadi Kristus (Khristos, bhs. Yunani: ‘Yang Diurapi’). “Pemberita Injil Kerajaan Allah” itu telah menjadi “Yang Diberitakan”, The Proclaimer Became the Proclaimed.[12] Di dalam Yesus Kristus, Allah telah menyatakan diri-Nya, telah melawat umat-Nya (Luk 7:16; 19:44).

Sejak pergeseran anggapan tentang Yesus tersebut, orang-orang yang disebut Khristianoi atau Kristen (Kristiani) merumuskan pengakuan imannya: “Yesus Kristus adalah Tuhan.” (Flp 2:11; 1Kor 12:3) Inilah pengakuan iman Kristiani yang mula-mula. Bagi Paulus, pengakuan iman ini dimungkinkan karena pekerjaan Roh Allah saja (1Kor 12:3). Dari sini kita melihat bagaimana refleksi umat Kristiani sampai kepada pengakuan akan ketuhanan Yesus Kristus dan pengakuan akan pekerjaan Roh Allah atau Roh Kudus.

Lebih lanjut Paulus menyatakan imannya demikian: “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.” (Kol 2:9) Maka berkembanglah Kristologi, pemahaman ke-Allahan di dalam diri Yesus Kristus. Penulis Injil Yohanes kemudian mengungkapkan “Kristologi dari atas”, yang mana Yesus Kristus dipahami sebagai Firman Allah yang telah menjadi manusia, sebagai penyataan Allah di dunia (Yoh 1:1, 14, 18). Bagi Penulis Yohanes, hubungan antara Yesus Kristus dan Allah itu satu:

“Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.” (Yoh 12:44-45)

“Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” (Yoh 17:22)

Perihal keterkaitan dengan Roh Kudus, bagi Penulis Yohanes Roh Kudus itu adalah Penolong lain, Penghibur (Yunani: Parakletos) yang dijanjikan Yesus Kristus. Roh Kudus dinyatakan sebagai Roh Kebenaran yang akan menyertai dan tinggal di dalam para pengikut Kristus. (Yoh 14:15-26)

Pada perkembangan selanjutnya, Gereja Mula-mula mulai memasukkan rumusan liturgis yang menyatakan pengakuan iman akan Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus (2Kor 13:13; Mat 28:19). Kemudian Penulis 1Yohanes (5:7) menegaskan sebagai berikut: “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudusl dan ketiganya adalah satu...]”

3. Diperdebatkan oleh Orang Yahudi

Sekitar pertengahan abad kedua, Justinus, menulis buku Dialog. Buku itu merupakan dialog antara seorang Kristen (Justinus sendiri) dengan seorang Yahudi yang bernama Trypho. Dalam buku itu, Trypho menegaskan keberatan orang Yahudi terhadap iman Kristiani. Menurut Trypho, orang-orang Kristiani mengkhianati iman para nabi akan Allah Yang Esa. Orang-orang Kristiani dicap sebagai pengkhianat monoteis Israel.[13]

4. Dirumuskan oleh Bapa-bapa Gereja

Berbagai upaya dilakukan oleh Bapa-bapa Gereja menghadapi keberatan-keberatan yang diajukan oleh kalangan Yahudi. Upaya ini didukung oleh pengaruh pemikiran filosofis Yunani, terutama Platonisme dan Neo-Platonisme. Akibatnya, argumen-argumen tentang Allah Tritunggal beragam dan mengundang perdebatan-perdebatan yang lain. Sebagai contoh: Justinus memahami Allah Tritunggal secara subordinasianis: Anak dan Roh bergantung dari Bapa; Anak melaksanakan tugas perutusan yang diberikan oleh Bapa; Roh menyelesaikan tugas Anak. Subordinasianisme ini nyata dalam rumusan seperti yang kita temukan dalam Doa Syukur Agung Justinus: “Hormat dan pujian bagi Bapa alam semesta melalui nama Putra dan Roh Kudus.” Kata ‘melalui’ memperlihatkan pikiran bahwa Putra (Anak) dan Roh Kudus merupakan pengantara yang bergantung dari Bapa. Selain Justinus, Origenes dan Arius dapat digolongkan sebagai penganut subordinasianisme.[14]

Ada suatu kelompok Kristiani Mula-mula yang sangat prihatin akan keesaan Allah. Mereka berharap keesaan Allah tidak dikhianati oleh pengakuan iman Kristiani. Oleh karena itu mereka berusaha mencari jalan, bagaimana hubungan khusus Yesus dengan Allah bisa dipikirkan tanpa membahayakan keesaan absolut Allah. Dua macam jawaban yang mereka ajukan – itulah sebabnya kemudian mereka dibagi atas dua golongan.[15]

Golongan pertama adalah monarkianisme dinamis. Golongan ini berpendapat bahwa Yesus merupakan manusia biasa, tetapi Allah melengkapi-Nya dengan suatu kekuatan (dunamis) istimewa. Pelengkapan itu terjadi pada peristiwa pembaptisan Yesus di Sungai Yordan, atau ketika Yesus ditinggikan Allah dalam peristiwa kebangkitan. Jadi, Yesus hanya diangkat sebagai Anak Allah, tanpa sungguh sebagai Allah. Karena ada proses pengangkatan (adopsi), maka golongan ini pun dikenal dengan sebutan adopsianisme. Pendukung golongan ini antara lain: Paulus dari Samosata. Pada tahun 269, paham seperti ini ditolak oleh sebuah sinode di Antiokhia.

Golongan kedua adalah monarkianisme modalis (kata Latin modus berarti ‘cara’). Menurut golongan ini, Yesus adalah suatu cara Allah menyatakan diri. Sambil mau mempertahankan keesaan absolut Allah, golongan ini meyakini bahwa Yesus sungguh-sungguh Allah, karena hanya sebagai Allah, Ia bisa menyelamatkan dunia. Golongan ini mengajarkan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus hanya merupakan nama atau cara penampakan (prosopa, topeng) yang berbeda dari Allah yang sama.[16]

Di atas dikatakan, Arius termasuk penganut subordinasianisme. Sebenarnya peran Arius lebih besar lagi dalam pemahaman subordinasianis ini. Ia berusaha mensistematisasi subordinasianisme. Ia sangat dipengaruhi oleh Platonisme yang menganggap Allah yang esa dan tertinggi itu tinggal jauh di dalam transendensi yang tak terhampiri, dan Allah seperti itu tidak bisa berhubungan dengan dunia. Bagi Arius, Logos (Anak) tidak mungkin adalah Allah yang benar, karena jika Logos itu Allah yang benar, maka ia tidak bisa menjadi manusia. Dengan demikian, Arius menyangkali keilahian Yesus Kristus.

Pertentangan hebat pun timbul di dalam Gereja gara-gara paham Arianisme ini. Tiga Sinode partikular di Afrika berusaha menyelesaikan konflik ini. Dari ketiga sinode itu, dua setuju dengan Arianisme, satu menolak. Akhirnya, karena kuatir terjadi perpecahannya, Kaisar Konstantinus mengumpulkan semua uskup dari bagian Timur kekaisarannya di Nicea, agar mereka bersama-sama berunding dan mengambil keputusan mengenai ajaran yang dikemukakan Arius. Dengan demikian, pada tahun 325, di Nicea terjadi sinode yang terbilang sebagai konsili ekumenis yang pertama dalam sejarah Gereja.

Konsili Nicea memutuskan batas-batas paham Allah Tritunggal. Melawan segala godaan triteisme, Konsili menegaskan keesaan absolut Allah. Terhadap subordinasianisme, Konsili menegaskan keilahian yang benar dari Anak (Yesus Kristus). Rumusan pengakuan iman hasil Konsili Nicea adalah sebagai berikut:[17]

“Kami percaya dalam satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan;

Dan di dalam satu Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah, dilahirkan dari Bapa, hanya diperanakkan, yaitu dari substansi Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah yang sejati dari Allah yang sejati, dilahirkan bukan diciptakan, berasal dari satu substansi dengan Bapa, melalui Siapa segala sesuatu ada, segala sesuatu yang baik yang di sorga maupun yang di bumi, yang oleh sebab kita manusia dan demi keselamatan kita, turun dan menjelma, menjadi manusia, menderita dan bangkit lagi pada hari yang ketiga, naik ke sorga, dan akan datang untuk menghakimi yang hidup dan yang mati.

Dan di dalam Roh Kudus.”

Konsili Nicea tampaknya tidak mengakhiri perdebatan dengan Arianisme. Malah dengan Nicea, kontroversi mulai mencapai keseriusannya. Kaisar Konstantinus pada waktu itu puas dengan penandatanganan pengakuan iman Nicea, tetapi membiarkan interpretasi kepada masing-masing. Athanasius tercatat sebagai Bapa Gereja yang berjuang menegakkan hasil Konsili Nicea. Untuk itu, Athanasius pernah mengalami pengasingan sebanyak lima kali. Bagi sejarah doktrin Trinitas, Athanasius terutama memiliki dua makna. Pertama, ia makin menjadi sadar akan pentingnya memahami homo-ousios Nicea bukan hanya sebagai ucapan mengenai keilahian penuh Anak, tetapi juga maknanya bagi keesaan absolut Allah. Kesadarannya yang radikal mendorong Athanasius mengatakan seperti ini: “Sesungguhnya Ia menjadi manusia, agar kita boleh menjadi Allah.”[18]

II. Dari Pengalaman sampai Pemikiran: Teologi Induktif menjadi Teologi Deduktif

Uraian sejarah pembentukan doktrin Trinitas di atas sengaja diakhiri dengan pernyataan kesadaran Athanisius. Jelas kepada kita, bahwa Gereja Mula-mula lebih hidup dengan penghayatan ketimbang penalaran; atau pengalaman ketimbang pemikiran akan Trinitas. Ini merupakan manifestasi dari upaya berteologi (doing theology) secara induktif: berangkat dari penghayatan dan pengalaman iman dan hidup. Namun kemudian, ketika penghayatan dan pengalaman itu terhubung dengan orang lain (yang barangkali berkepercayaan lain), maka mau tidak mau penghayatan dan pengalaman iman dan hidup itu (atau teologi induktif) harus dinyatakan secara konkret. Inilah yang penulis sebut sebagai “pembahasaan penghayatan dan pengalaman iman dan hidup”. Dengan ini pula, kembali harus disadari bahwa pembahasaan itu selalu mengandung kelemahan dan kekurangan. Yang jelas, ketika pembahasaan itu menghasilkan (antara lain) suatu rumusan pengakuan iman, maka rumusan itu akan mendorong upaya berteologi yang deduktif. Jadi, upaya berteologi yang deduktif tampaknya harus selalu mendapat peringatan, bahwa rumusan apapun dari teologi induktif tidak dapat dibakukan; apalagi diabsolutkan.

Doktrin Trinitas merupakan hasil upaya berteologi secara induktif. Oleh karena itu, ia sebaiknya “diuji” dalam kehidupan. Demikianlah iman kita menjadi “iman yang mencari pemahaman”, fides quaerens intellectum.


Hendri M. Sendjaja

CATATAN AKHIR:

[1] Gregory Nazianzus, Oratio xxviii, iv, dalam Nicene and Post Nicene Fathers, seri kedua, Vol. VII, hlm. 289.
[2] Istilah ‘doktrin’ menunjuk pada suatu perangkat prinsip dasar bagi pembentukan kepercayaan, teori atau kebijakan. Pada Abad ke-14, melalui bahasa Perancis, kata Latin doctrina berarti “pembelajaran” dari doktor. Jadi, kata ‘doktrin’ dan ‘doktor’ mempunyai keterkaitan. Dengan demikian, sifat doktrin lebih kepada penalaran. Berdasarkan uraian Kuntadi Sumadikarya, “Trinitas dan Pendidikan Agama Kristen,” (naskah untuk Penuntun, akan diterbitkan).
[3] Buku ini pernah menjadi bahan pelajaran perbandingan agama bagi para mahasiswa dan pelajar-pelajar di perguruan-perguruan tinggi, akademi-akademi, dan lembaga-lembaga Islam Tinggi dan Menengah (Tsanawiyah) di seluruh Indonesia. Berdasarkan tulisan Andar Tobing, Apologetika tentang Trinitas, Djakarta: BPK Gunung Mulia, 1972, hlm. 10.
[4] Tom Jacobs menjelaskan bahwa pengertian ‘pengikut Kristus’ ini dapat menunjuk kepada tiga hal: (1) pengikut seorang budak – oleh karena itu tidak sangat terhormat; (2) penganut agama atau ajaran Kristus; (3) pengikut gerakan mesianik. Lihat: Tom Jacobs, Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, ,1993, hlm. 9-10.
[5] Penulisan “orang Israel (Yahudi) Perjanjian Lama (PL)” menunjuk kepada orang-orang Israel sebagaimana digambarkan di dalam Kitab Suci (secara khusus PL).
[6] Istilah ‘Yang Transenden’ (transenden – bhs. Latin: ‘mengatasi’) dipahami sebagai Allah yang “ada”-Nya melampaui jagat raya dan tidak dapat disamakan dengannya. Sementara istilah ‘Yang Imanen’ (imanen – bhs. Latin: ‘tinggal dalam’) dipahami sebagai Allah yang “hadir” di mana pun dan dalam segala sesuatu (lihat Mzm 139). Kalau tidak dilengkapi dengan paham transendensi ilahi, paham mengenai Yang Imanen dapat jatuh ke dalam panteisme. Berdasarkan: Gerald O’Collins dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 114, 337.
[7] Lihat: Abba Eban, Sejarah Ringkas Umat Israel, terj. Lembaga Biblika Indonesia (Ende: Nusa Indah, 1978).
[8] Kata ‘apokaliptik’ (bhs. Yunani: ‘menyingkapkan’) merujuk kepada sesuatu yang sebelumnya tersembunyi tetapi kini telah disingkapkan. Lihat: D.S. Russell, Penyingkapan Ilahi: Pengantar ke dalam Apokaliptik Yahudi, terj. Ioanes Rakhmat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), hlm. 19.
[9] Russel, Ibid., hlm. 137; bdk. Lawrence E. Toombs, Di Ambang Fajar Kekristenan, terj. Jan S. Aritonang (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1978), hlm. 129.
[10] Sampai pada masa kini pun, orang Yahudi tetap memiliki pengharapan akan kedatangan Mesias.
[11] John Stambaugh dan David Balch mengungkapkan bahwa pada abad pertama muncul pemimpin-pemimpin kharismatis di berbagai bagian provinsi di Israel dan harapan-harapan akan pembebasan segera dari dominasi Romawi dibakar oleh khotbah-khotbah kenabian dan sastra apokaliptik yang meramalkan kemenangan orang-orang Yahudi di bawah seorang Mesias yang akan datang. Selanjutnya banyak orang mengangkat diri sebagai mesias dalam rangka perjuangan politis melawan penguasa Romawi. Salah seorang di antara mereka adalah Shimon bar-Koshiba yang disebut juga Bar-Kokhba (‘Putra Bintang’), tokoh mesianis yang kemudian dicap gagal dalam perjuangannya. John Stambaugh dan David Balch, Dunia Sosial Kekristenan Mula-mula, terj. Stephen Suleeman (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), hlm. 19-22.
[12] Rudolf Bultmann, Theology of the New Testament, Vol. 1 (London: SCM Press, 1952), hlm. 33.
[13] Georg Kirchberger, Allah: Pengalaman dan Refleksi dalam Tradisi Kristen, Maumere: LPBAJ, 2000, hlm. 128.
[14] Ibid., hlm. 134.
[15] Ibid., hlm. 135-136.
[16] Dalam buku Jalan Keselamatan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998, hlm. 59), Werner Pfendsack dan H.J. Visch menuliskan sebuah analogi tentang Allah Tritunggal, yang tidak lain dapat menggiring kepada pemahaman monarkianisme modalis. Di sana dituliskan: “Bapa, Anak dan Roh Kudus, yang juga adalah merupakan Allah yang esa, yang benar dan kekal. Soal yang sulit ini dapat kita umpamakan misalnya dengan matahari. Melihat matahari, dapat kita bedakan: 1. besarnya, 2. terangnya, 3. panasnya, padahal kita selalu mengingat kepada matahari yang satu.”
[17] Dikutip dari Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, terj. A.A. Yewangoe (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), hlm. 65-66.
[18] Lohse, Ibid., hlm. 70-76.

Tidak ada komentar: